Gunung Singgah Mata Terancam? Warga Desak Bareskrim dan Propam Turun ke Pidie

Minggu, 27 September 2026 - 10:33

5077 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PIDIE – Kemarahan warga Tangse, Mane, dan Geumpang, Kabupaten Pidie, kembali meledak. Mereka menyoroti dugaan aktivitas tambang ilegal di kawasan Gunung Singgah Mata yang disebut telah menggunakan alat berat jenis ekskavator (beko).

Warga menilai masuknya alat berat ke kawasan hutan merupakan persoalan serius. Mereka khawatir pengerukan tanah dan pembukaan kawasan akan merusak hutan, mengganggu sumber air, serta meningkatkan risiko longsor dan banjir.

“Beko sudah masuk ke gunung! Mana Polres Pidie? Mana Kasat Reskrim? Kalau benar ilegal, kenapa masih bisa beroperasi? Kami meminta Kapolri turun tangan dan mengevaluasi Kapolres serta Kasat Reskrim Pidie!” ujar warga dengan nada kecewa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Warga juga mendesak aparat mengusut tuntas siapa pemilik alat berat, pemodal, serta pihak yang berada di balik aktivitas tersebut. Dugaan adanya “cukong” atau pihak yang membekingi harus dibuktikan melalui penyelidikan, bukan dibiarkan menjadi tanda tanya.

Bagi masyarakat, persoalan ini menyangkut masa depan hutan dan keselamatan warga.

Jika kerusakan kawasan hutan dibiarkan, masyarakat khawatir dampaknya dapat berupa banjir bandang, longsor, kerusakan sumber air, hingga kekeringan.

Karena itu, warga menyatakan sikap tegas:

TOLAK TAMBANG ILEGAL DI GUNUNG SINGGAH MATA!

Mereka juga menyampaikan tiga tuntutan kepada Kapolri:

1. COPOT KAPOLRES PIDIE DAN KASAT RESKRIM PIDIE!
Warga meminta evaluasi dan pertanggungjawaban atas penanganan dugaan aktivitas tambang ilegal di wilayah tersebut.

2. TURUNKAN BARESKRIM DAN PROPAM MABES POLRI KE PIDIE!
Warga meminta pemeriksaan dilakukan secara transparan, termasuk terhadap dugaan pembiaran apabila nantinya ditemukan bukti.

3. SITA ALAT BERAT DAN USUT PEMODALNYA!
Jika terbukti digunakan untuk aktivitas pertambangan ilegal, warga meminta alat berat diamankan dan seluruh pihak yang terlibat diproses sesuai hukum.

Kini masyarakat menunggu tindakan nyata, bukan sekadar janji.

Pertanyaannya sederhana:
Jika benar ada tambang ilegal dan alat berat sudah masuk kawasan hutan, siapa yang bertanggung jawab?

Warga Tangse, Mane, dan Geumpang meminta pemerintah serta aparat penegak hukum jangan membiarkan masyarakat berjuang sendirian menyelamatkan Gunung Singgah Mata.

Berita Terkait

HUT Pidie ke-515 di Tengah Tangis Alue Pigoe: Pemerintah Berpesta, Warga Kehilangan Mata Pencaharian
Ribuan Lubang Tambang Emas Jadi Ancaman di Geumpang, Pemerintah Didesak Tak Hanya Menindak Pekerja di Lapangan
Pungli SIM C di Satpas Polres Pidie Tembus Rp600 Ribu: Tanpa Ujian Teori, Diduga Melibatkan Oknum

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 07:35

Lapas Labuhan Ruku Gelar Ibadah Minggu, 116 Warga Binaan Ikuti Pembinaan Kerohanian Kristen

Minggu, 11 Oktober 2026 - 02:00

*Buka Festival Layang-layang, Bupati Batu Bara Dorong Pelestarian Olahraga Tradisional dan Pengembangan Wisata*

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 07:37

Tingkatkan Kebugaran dan Jaga Kesehatan, Warga Binaan dan Petugas Lapas Labuhan Ruku Rutin Laksanakan Senam

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 07:27

Tingkatkan Kebugaran dan Jaga Kesehatan, Warga Binaan dan Petugas Lapas Labuhan Ruku Rutin Laksanakan Senam

Jumat, 9 Oktober 2026 - 18:01

Polisi Bersama Masyarakat, Polres Simalungun Sosialisasikan SPMB SMA Kemala Taruna Bhayangkara ke Siswa SMP Negeri 1 Dolok Panribuan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 17:52

Polisi Bersama Masyarakat, Kapolres Simalungun Gelar Jumat Curhat dan Jumat Berkah di Mariah Jambi, Tampung Keluhan hingga Bagikan Bansos

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:53

*Rumah yang Dijadikan Bengkel Pembuatan Steling Disergap, Kasat Resnarkoba Pimpin GSN di Tanjung Morawa*

Jumat, 9 Oktober 2026 - 06:51

Lapas Labuhan Ruku Gelar Sidang TPP, Usulkan 18 Narapidana Ikuti Program Rehabilitasi Berbasis Ketahanan Pangan 

Berita Terbaru